Saturday, March 24, 2018

Earth Hour 2018

Pada hari Sabtu 24 Maret 2018, Earth Hour akan kembali diadakan. Jika biasanya Earth Hour dilaksanakan setiap hari Sabtu pada akhir bulan Maret, pada tahun 2018 dimajukan menjadi tanggal 24 untuk menghormati umat Kristen yang merayakan Paskah. Pada tahun ini, Earth Hour akan dimulai dengan memadamkan cahaya lampu dari pukul 8.30-9.30 malam. Pada tahun ini, tema yang diusung adalah #Connect2Earth. Tema tentang hubungan manusia dengan alam.
via blog.pne.ca
Earth Hour pertama kali diadakan pada 31 Maret 2007 mulai pukul 7.30 malam waktu setempat di Sydney, Australia atas prakarsa WWF Australia dan beberapa pihak lainnya. Earth Hour merupakan bentuk aksi simbolis dalam rangka melindungi bumi dari ancaman perubahan iklim global. Sejak pertama kali dilaksanakan hingga saat ini, sekitar lebih dari 7.000 wilayah dari 187 negara telah berpartisipasi dalam Earh Hour.

Ada beberapa hal menarik seputar Earth Hour, berikut ini penjelasannya:

1. Logo 60+
Tadinya logo Earth Hour hanya 60 saja dengan motif Bumi dengan latar hitam sebagai presentasi dari aksi memadamkan cahaya lampu selama 60 menit. Kemudian logo tersebut ditambahkan tanda "+" sebagai penekanan bahwa setelah Earth Hour diharapkan aksi melindungi bumi terus dilakukan.

2. Dilaksanakan pada hari Sabtu di akhir bulan Maret
Hari Sabtu dipilih karena pada hari tersebut mayoritas orang sedang libur dari pekerjaan mereka. Selain itu, biasanya pada hari libur orang-orang akan memanfaatkan waktu dengan berkumpul bersama. Jadi Earth Hour tidak akan menggangu produktivitas kerja dan dapat dilakukan bersama. Akhir Maret dipilih karena mayoritas negara di dunia sedang mengalami pergantian musim sehingga suhunya cukup nyaman. Selain itu, di akhir Maret rata-rata semua belahan dunia sudah cukup gelap pada pukul 8.30 malam sehingga sensasi Earth Hour akan semakin terasa. Berbeda jika dilakukan pada bulan lainnya, dimana pada pukul 8.30 sebagian wilayah masih terang tetapi di wilayah lain sudah gelap.

3. Efek Earth Hour
Sebagian besar listrik yang kita pakai masih berasal dari bahan bakar fosil seperti minyak dan batu bara. Sepengetahuan kita, bahan bakar fosil merupakan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui  dan jumlahnya kian menipis setiap saat. Penggunaan bahan bakar fosil juga menghasilkan emisi karbon yang dapat mempengaruhi pemanasan bumi. Solusi dari masalah tersebut adalah kita harus melakukan aksi hemat energi dan menemukan sumber energi baru yang ramah lingkungan. Earth Hour merupakan salah satu contoh upaya untuk menghemat energi. Walau hanya 60 menit, setidaknya kita bisa bayangkan berapa banyak energi dari seluruh dunia yang bisa kita hemat.

Jika diperhatikan, Earth Hour memiliki banyak manfaat akan tetapi kita juga harus bijak saat ingin berpartisipasi. Seperti membiarkan fasilitas umum seperti lampu lalu lintas, lampu penerangan jalan, ruumah sakit, dan fasilitas umum lainnya yang bersifat penting harus tetap dialiri listrik. Semoga dengan Earth Hour setiap orang yang berpartisipasi bisa istiqomah "melindungi Bumi" dan semoga orang-orang yang belum sadar juga akan tergerak hatinya untuk "melindungi Bumi".



Sumber:
http://blog.pne.ca/2017/03/24/earth-hour-2017-changeclimatechange/
https://en.wikipedia.org/wiki/Earth_Hour
https://www.earthhour.org/
https://www.worldwildlife.org/pages/earth-hour
https://www.wwf.or.id/?24701/Lima-hal-penting-di-balik-kampanye-Earth-Hour

Wednesday, March 21, 2018

Hari Tanpa Bayangan 2018 di Indonesia

Pada hari ini, tepatnya Rabu 21 Maret 2018, daerah di Indonesia yang berada di bawah garis equator/khatulistiwa dan sekitarnya mengalami peristiwa hari tanpa bayangan. Bukan hilang karena diambil Gekko Moriah loh ya :)
via https://www.goodfon.com
Memasuki tengah hari, matahari akan berada tepat di atas kepala sehingga benda yang berdiri tegak akan kehilangan bayangannya. Titik puncak matahari terjadi sekitar pukul 11.50 WIB. Selain hilangnya bayangan, pada waktu tersebut matahari akan terasa lebih terik dibanding saat solsticeSolstice atau titik balik matahari adalah ketika matahari berada di titik paling utara dan paling selatan. Solstice menandai puncak musim panas atau musim dingin.

Peristiwa hari tanpa bayangan terjadi karena Bumi beredar mengitari matahari pada jarak sekitar 150 juta kilometer dengan periode sekitar 365 hari. Garis edar bumi berbentuk agak lonjong sehingga bumi kadang bergerak lebih cepat dan kadang bergerak lebih lambat. Bidang edar bumi disebut dengan bidang ekliptika. Bidang ini miring sebesar 23,4 derajat terhadap bidang equator bumi. Karenanya, matahari tampak berada di atas belahan bumi utara selama sekitar setengah tahun dan berada di atas belahan bumi selatan setengah tahun sisanya. Perubahan posisi tampak matahari menyebabkan perubahan musim di bumi, misalnya empat musim di bagian negara sub-tropis dan musim kering-basah di negara tropis.

Dampak dari peristiwa hari tanpa bayangan adalah terjadinya gangguan layanan televisi kabel dan sinyal radio. Gangguan bisa terjadi selama 2-3 hari sekitar 15-30 menit.

Saat ini sejumlah wilayah atau kota yang mengalami hari tanpa bayangan yakni Pontianak, Bonjol, Bontang, Riau, Mautong (Sulawesi Tengah), Kepulauan Kayoa (Sulawesi Tengah), Amber sampai Gebe (Halmahera Tengah). Daerah-daerah tersebut merupakan area ekuator. Dalam satu tahun peristiwa ini terjadi 2 kali, dan akan terjadi pada 23 September 2018. Peristiwa hari tanpa bayangan, sejatinya bukan hanya terjadi di area ekuator saja. Kota lain di Indonesia juga mengalami fenomena tanpa bayangan tersebut tapi waktunya berbeda. Jakarta termasuk termasuk salah satu kota yang mengalami hari tanpa bayangan. Di Jakarta, peristiwa tersebut sudah terjadi pada tanggal 5 Maret 2018 lalu dan akan terjadi lagi pada 9 Oktober 2018.
via https://inet.detik.com


Sumber:
https://inet.detik.com/science/d-3928093/ingat-hari-tanpa-bayangan-terjadi-siang-ini
http://news.liputan6.com/read/3388405/hari-tanpa-bayangan-21-maret-di-indonesia-akan-muncul-gelombang-panas
https://www.goodfon.com/download/one-piece-shichibukai-the/1440x900/
https://www.viva.co.id/digital/digilife/1018597-hari-ini-bayangan-menghilang-di-khatulistiwa-jakarta-sudah

Sunday, February 18, 2018

Naga dari Indonesia


Saat membaca atau mendengar kata naga, mungkin sebagian dari kita akan langsung membayangkan kadal raksasa bersayap yang bisa menyemburkan api (seperti di serial Game of Thrones atau naga dalam mitologi Tiongkok). Jika selama ini kita hanya mengetahui sosok naga hanya dari film atau buku saja, di Indonesia kita bisa melihat sosok naga yang sebenarnya. Naga tersebut tidak lain adalah komodo. Kita bisa menjumpainya di alam liar Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Sebagian besar populasi komodo terdapat di Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Jumlah populasi komodo pada tahun 2013 sebanyak 3222 ekor dan pada tahun 2015 menurun menjadi 3014 ekor. IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) menetapkan komodo berstatus vulnerable (rentan).

Komodo merupakan kadal terbesar di dunia dengan panjang mencapai 3 m dan berat mencapai 70 kg. Secara morfologis, tubuh komodo sepenuhnya ditutupi oleh sisik, rahang yang dapat terbuka lebar yang dilengkapi dengan gigi-gigi tajam, lidah panjang bercabang, tungkai kaki yang kokoh dengan cakar yang tajam, serta ekor panjang dan besar.

via https://nationalzoo.si.edu
Saat berburu mangsa, komodo lebih mengandalkan lidahnya daripada penglihatan dan pendengaran. Komodo akan menjulurkan lidahnya untuk menangkap partikel-partikel kimia di udara. Partikel-partikel kimia pada lidah akan menempel pada organ Jacobson yang ada di bagian langit-langit mulut untuk kemudian di proses oleh otak. Melalui proses tersebut, komodo dapat mengetahui dimana arah mangsanya. Komodo bahkan bisa mendeteksi bangkai yang berjarak 4 km dari posisinya. 

Di alam, komodo dewasa memakan bangkai, rusa, babi, kerbau, dan komodo lain yang berukuran lebih kecil. Ada beberapa laporan bahwa mereka menyerang dan membunuh manusia. Saat akan memangsa hewan yang masih hidup, komodo akan diam menunggu mangsanya hingga masuk dalam jangkauan serangan kemudian menyergapnya. Jika mangsanya berukuran lebih kecil, mereka akan menggigit bagian leher untuk melumpuhkan kemudian langsung menelan mangsanya. Jika mangsanya berukuran lebih besar, mereka akan menggigit bagian kaki untuk menjatuhkannya terlebih dahulu kemudian menggigit leher untuk kemudian melumpuhkan mangsanya. Komodo memiliki gigi-gigi tajam, melengkung, dan bergerigi. Perpaduan antara gigi tajam, rahang dan leher yang kuat membantu komodo dalam menggigit dan mencabik mangsanya. Gigitan komodo dikenal berbahaya karena air liurnya yang mengandung sekitar 50-60 strain bakteri dan bisa yang berasal dari kelenjar di bagian dalam rahang bawah mereka. Bisa tersebut menyebabkan proses penggumpalan darah terganggu sehingga menghambat proses menutupnya luka, penurunan tekanan darah, kelumpuhan otot, shock, dan hilangnya kesadaran. Jika mangsa komodo berhasil lolos dari serangan, dalam 2-7 hari mangsanya akan mati akibat racun dan infeksi dari luka gigitan tersebut.

via https://en.wikipedia.org
via https://www.nationalgeographic.com
Mulut dan gigi komodo tidak di desain untuk mengunyah makanan. Mereka akan menelan utuh makanannya. Jika ukurannya terlalu besar, komodo akan mencabiknya terlebih dahulu menjadi ukuran yang lebih kecil kemudian menelannya. Komodo dapat makan sebanyak 80% dari bobot tubuhnya untuk sekali makan. Setelah makan, komodo tidak akan makan lagi untuk beberapa hari. Sisa makanan yang tidak tercerna akan dimuntahkan. Jika komodo merasa terancam, dia bisa memuntahkan makanannya untuk mengurangi bobot tubuhnya kemudian menghindari ancaman tersebut.

Musim kawin komodo berlangsung antara bulan Mei hingga Agustus. Para pejantan akan bertarung memperebutkan betina. Setelah musim kawin selesai, betina akan mulai meletakkan telurnya antara bulan Agustus hingga September. Mereka bisa bertelur hingga 20-30 butir. Betina akan menggunakan bekas sarang ayam/burung megapod atau menggali lubang untuk meletakkan telur mereka. Setelah 7-8 bulan, telur-telur tersebut akan menetas. Komodo yang baru menetas memiliki bobot rata-rata 100 gram dengan panjang 40 cm. Untuk menghindari predator, komodo kecil banyak menghabiskan waktu di pohon. Mereka memangsa serangga, kadal, ular, dan burung. Setelah mencapai usia 5-8 tahun, mereka akan mulai memangsa hewan pengerat, monyet, kambing, babi, dan rusa. Komodo diperkirakan dapat hidup hingga 30 tahun.

Pada tahun 2006, dilaporkan bahwa seekor komodo di Kebun Binatang Chester, Inggris menghasilkan anak komodo tanpa melalui proses kawin. Dalam istilah biologi, peristiwa tersebut dinamakan partenogenesis. Peristiwa tersebut merupakan partenogenesis pertama pada komodo yang pernah tercatat.




Sumber:
https://duniaotan.com
https://en.wikipedia.org
https://nationalzoo.si.edu
https://www.nationalgeographic.com

Tuesday, May 19, 2015

Udang Pistol


Kita pasti tahu bahwa pistol adalah senjata yang dibuat dan digunakan oleh manusia. Seiring dengan perkembangan teknologi dan akal manusia, terciptalah berbagai macam pistol dengan kehebatannya masing-masing. Akan tetapi, selain manusia ada juga hewan yang mempunyai "pistol". "Pistol" yang diberikan khusus oleh Allah Yang Maha Pencipta untuk hewan tersebut. Yang menakjubkan adalah, pemilik "pistol" tersebut adalah penghuni lautan yang ukurannya bahkan tidak sampai 5 cm. Pemilik "pistol" tersebut adalah udang pistol atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan pistol shrimp.

(via www.marlin.ac.uk)

Ciri khas dari udang pistol adalah lengannya yang asimetris. Lengan dengan bentuk yang besar (hampir sebesar tubuh udang) merupakan senjata mematikan yang digunakan udang pistol. Lengan ini merupakan "pistol" yang menjadi alat pertahanan sekaligus alat penyerang. Yang unik adalah, jika lengan pistolnya terlepas / rusak, lengan capit akan berubah menjadi lengan pistol dan lengan yang hilang akan tumbuh menjadi lengan capit. Jika kamu belum tahu bagaimana dahsyatnya udang pistol, kamu bisa klik link video dibawah


Dari video tersebut, udang pistol menembakkan peluru tak kasat mata yang langsung melumpuhkan udang. Peluru tak kasat mata tersebut sebenarnya adalah gelombang kejut yang berasal dari gelembung air yang dihasilkan dari lengan pistol.


Bagian lengan pistol terdiri dari p (propus), d (dactyl), s (socket), dan pl (plunger). Saat membidik mangsanya, dactyl akan terbuka dan air akan masuk ke dalam socket. Saat akan menembak, plunger akan masuk ke dalam socket dan menghasilkan gelembung udara bertekanan rendah (kecepatan gelembung yang dihasilkan bisa mencapai 100 km / jam). Tekanan gelembung semakin meningkat dan saat mencapai kestabilan, gelembung tersebut akan pecah dan menghasilkan gelombang kejut. Gelombang kejut inilah yang melumpuhkan lawan / mangsa dari udang pistol.


Selain itu, ternyata ada suara yang dihasilkan saat gelembung udara tersebut pecah. Suara yang dihasilkan konon bisa mencapai 200 desibel. Sebagai pembanding, suara petir bisa mencapai 120 desibel. Bahkan paus biru dengan ukurannya yang besar dan suaranya yang terkenal keras (mencapai 180 desibel) masih kalah dibanding udang pistol. Hal ini menjadikan udang pistol menjadi makhluk paling berisik di dunia.



Saat gelembung tersebut pecah, ternyata ada kilatan cahaya yang dihasilkan. Kilatan cahaya tersebut terjadi sangat cepat, sekitar 300 piko detik (1 piko detik = sepertriliun detik). Kilatan cahaya tersebut menunjukkan bahwa tekanan dan suhu dalam gelembung sangat tinggi. Diperkiran suhu dalam gelembung tersebut mencapai 5000 derajat Kelvin (sekitar 4800 derajat Celcius). Proses menakjubkan ini dari terbentuknya gelembung sampai pecahnya gelembung diperkirakan hanya membutuhkan waktu 300 mikro detik (1 mikro detik = sepersejuta detik)


(via m.fark.com)


Sumber:

Saturday, April 25, 2015

Penyelam Kompresor Pulau Barrang Lampo

Tulisan kali ini saya angkat dari program 360 di Metro TV beberapa waktu lalu yang berjudul Penyelam Kompresor. Cerita ini berdasarkan kisah masyarakat Pulau Barrang Lompo yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan teripang. Pulau Barrang Lampo merupakan salah satu kelurahan dari Kecamatan Ujung Tanah, Kotamadya Makassar. Pulau ini berjarak sekitar 11 mil dari Makassar dan dapat dijangkau dengan perahu neyalan atau kapal penumpang dari Dermaga Tradisional Kayu Bengkoah, Makassar selama 45 menit - 1 jam.


Salah satu yang menarik dan ironis di pulau ini adalah adanya istilah "Lorong Janda" dan banyaknya nelayan yang lumpuh. Lorong atau gang ini merupakan tempat tinggal para janda nelayan - nelayan setempat. Sedangkan nelayan yang lumpuh disebabkan oleh keadaan yang bisa disebut dengan "dekompresi" akibat prosedur menyelam yang salah. Nelayan disini kebanyakan adalah nelayan teripang. Mereka menangkap teripang dengan cara meyelam menggunakan peralatan seadanya dan menggunakan kompresor udara yang biasa digunakan tukang tambal ban sebagai penyuplai udara.

Dekompresi merupakan istilah yang umum dan harus dihindari oleh para penyelam. Dekompresi digambarkan sebagai suatu keadaaan terakumulasinya nitrogen dalam peredaran darah saat atau setelah menyelam sehingga membentuk gelembung udara yang menyumbat pembuluh darah dan sistem syaraf. Akibat dari dekompresi mirip dengan gejala stroke, mulai dari mati rasa, kelumpuhan, hilang kesadaran, bahkan sampai kematian. Gejala dekompresi bisa terjadi sesaat setelah menyelam atau tertunda selama 48 jam. Hukum fisika yang mendasari teori dekompresi adalah Hukum Henry dan Hukum Boyle

Hukum Henry menyebutkan bahwa pada sebuah bejana yang berisi air dan udara, bila tekanan udara ditingkatkan maka akan terjadi pelarutan udara ke dalam air sesuai dengan peningkatan tekanan udara. Saat tekanan dalam bejana sudah cukup tinggi, apabila tekanan dikurangi perlahan, maka gas yang terlarut juga akan dibebaskan secara perlahan tanpa menimbulkan gelembung. Sebaliknya, jika tekana dikurangi dengan cepat, maka gas yang terlarut juga akan dibebaskan dengan cepat dan menimbulkan gelembung seperti air yang mendidih. Sedangkan Hukum Boyle menyebutkan bahwa semakin tinggi tekanan udara, maka kepadatan molekul udara akan semakin padat pada volume yang sama. Dari kedua hukum tersebut dapat digambarkan bahwa semakin dalam kita menyelam, maka tekanan akan semakin tinggi sehingga udara yang kita hirup akan semakin banyak pula. Saat meyelam, kita menghirup udara dari tabung. Mayoritas yang kita hirup adalah oksigen dan nitrogen. Oksigen tentu berguna karena digunakan oleh sel - sel tubuh, sedangkan nitrogen tidak digunakan. Nitrogen inilah yang nantinya akan terakumulasi dalam darah seiring dengan kedalaman, udara yang dihirup, dan lamanya waktu selam. Dekompresi dapat dicegah dengan memperhatikan waktu selam dan kedalaman serta penerapan teknik selam yang benar. Akumulasi gas - gas yang tidak terpakai dalam tubuh sebenarnya akan hilang dengan sendirinya melalui pernafasan normal dan naik dengan tenang saat menuju permukaan.

Pada kasus nelayang teripang Pulau Barrang Lampo, ada beberapa faktor yang salah dalam prosedur penyelaman mereka. Pertama, pengunaan kompresor sebagai penyuplai udara salah karena jika kompresor tiba - tiba mengalami gangguan tentu saja akan membahayakan penyelam. Belum lagi udara yang dihirup penyelam bisa saja bercampur dengan asap dari kompresor (apalagi jika kompresor tidak dilengkapi filter udara), serta masalah lain jika selang kompresor terlilit yang mengakibatkan suplai udara terhenti. Jika panik, penyelam akan berusaha naik ke permukaan secepat mungkin. Justru hal ini salah, karena efeknya seperti yang digambarkan pada Hukum Henry dan bisa menyebabkan pecahya alveoli paru - paru. Kedua, para nelayan kurang memperhatikan kedalaman dan waktu selam. Kebanyakan dari mereka berpikir, selama masih kuat dan dapat hasil tangkapan sebanyak mungkin. Dalam bidang selam juga ada istilah "nitrogen narkosis". Nitrogen narkosis dideskripsikan dengan hilangnya kesadaran/halusinasi yang terjadi akibat menyelam. Hal ini disebabkan efek anestesi dari suatu gas dengan tekanan tinggi yang dihirup saat menyelam (dalam hal ini adalah nitrogen yang terakumulasi dalam darah). Jika terlanjur mengalami dekompresi, bisa dipulihkan dengan menggunakan fasilitas hiperbarik. Sayangnya karena keterbatasan fasilitas, keadaan tersebut tidak segera ditangani sehingga mereka mengalami lumpuh permanen.

Dari beberapa hal diatas, kita dapat mengetahui kenapa banyak nelayan yang meninggal saat menyelam dan nelayan yang lumpuh di Pulau Barrang Lampo. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi karena harga teripang yang mahal. Nelayan lebih memilih menjadi penyelam teripang dibanding nelayan pancing. Jika menjadi nelayan pancing, mereka bisa mendapatkan penghasilan 2 juta rupiah dalam sebulan. Tetapi jika menjadi penyelam teripang, mereka bisa mendapatkan 2 juta rupiah hanya dalam waktu 10 hari. Bahkan ada penyelam yang mendapatkan 2 juta rupiah hanya dalam waktu sehari. Ironis memang, dibalik penghasilan yang besar mereka juga harus menghadapi resiko yang besar bahkan taruhannya adalah nyawa mereka sendiri. Sebenarnya mereka tahu resiko yang dihadapi, dan mereka juga berharap tetap bisa menangkap teripang dengan metode dan peralatan yang lebih memadai. Akan tetapi keinginan mereka terkendala karena mahalnya peralatan dan belum adanya solusi yang konkrit dari pemerintah setempat. Semoga masalah ini bisa terselesaikan sehingga penghuni Lorong Janda tidak bertambah dan para nelayan bisa tetap produktif untuk menafkahi keluarga mereka.

Sumber:

Tuesday, April 21, 2015

Colenak, Dicocol Enak

Setelah menonton acara Trending Topic Metro TV hari Senin, 20 April 2015 saya baru tahu bahwa salah satu kudapan/cemilan yang disajikan dalam acara Konferensi Asia Afrika  (KAA) ke-60 adalah colenak. Acara KAA akan berlangsung dari tanggal 19-24 April 2015 dan dihelat di Jakarta & Bandung. Kembali lagi ke colenak, jujur saya baru benar-benar mencari tahu apa itu colenak. Saya pernah mendengar colenak pada lirik yang dinyanyikan Mang Saswi yang berjudul Asin Sepat di acara Ini Talkshow NET TV. Lagu Asin Sepat sendiri merupakan parodi dari lagu In The End-nya Linkin Park

Colenak sendiri merupakan singkatan dari "dicocol enak". Setelah saya cari tahu, ternyata colenak merupakan makanan khas Sunda khususnya Bandung. Colenak diperkenalkan oleh Alm. Aki Murdi pada tahun 1930. Colenak terbuat dari tape singkong yang di bakar/panggang kemudian disiram dengan gula merah cair & parutan kelapa. Pada lirik lagu Asin Sepat, colenak disebutkan sebagai "beuleum peuyeum digulaan" yang artinya kurang lebih "tape singkong bakar yang diberi gula". Konon, karamel yang terbentuk akibat proses pembakaran (bagian yang gosong) pada tape singkong jika dipadukan dengan gula merah cair & parutan kelapa yang membuat rasa colenak unik & enak. Dari beberapa info yang saya dapatkan , salah satu tempat mencicipi colenak ada di Colenak Mardi Putra yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 733 Cicadas, kurang lebih 200 meter dari Terminal Cicaheum, Bandung. Colenak Mardi Putra sekarang masih dikelola oleh keturunan dari Alm. Aki Mardi sang penemu colenak. Seiring dengan berjalannya waktu, colenak kini juga dimodifikasi dengan bahan lain seperti santan, pisang, durian, keju, dsb. 


Setelah mengetahui colenak, saya beranggapan bahwa memang orang Sunda terkenal membuat cemilan yang unik yang namanya unik/disingkat. Contohnya antara lain cilok (aci dicolok), cireng (aci digoreng), seblak (yang ini saya juga baru-baru ini tahu dan mencoba), dll. Sepertinya kurang afdol kalau kita belum melihat wujud dari colenak. Selamat memandangi (awas nanti jadi kepingin coba hehehe). 




Monday, April 20, 2015

Upgrade KitKat Asus Zenfone 5 Tanpa Melalui Mode Droidboot

Bismillahirrahmannirrohim

Sebelumnya maaf jika postingan ini repost. Saya hanya ingin berbagi pengalaman meng-upgrade Asus Zenfone 5 saya dari firmware (FW) 1.18.40.9 ke FW terakhir. Saya bingung karena berkali-kali update via Over The Air (OTA) selalu gagal. Sampai akhirnya saya berkenalan dan bertanya dengan mas Subki Subiyakto dan beliau menyarankan untuk membaca postingan beliau di grup Facebook Asus Zenfone 5 Indonesia | Zen-UI yang berjudul [REVISI]Flash Ulang, Upgrade, Downgrade, Ganti SKU 100% WORK !!!

Masalah yang kemudian timbul adalah Zenfone saya tidak bisa masuk mode droidboot. Sedangkan salah satu langkah mengaplikasikan tutorial tersebut melalui mode droidboot. kemudian saya mencari di Google dan akhirnya menemukan www.laptopterbaru.net yang memberikan info bagaimana cara mengatasi Zenfone 5 yang tidak bisa masuk mode droidboot. Berikut akan saya coba gabungkan kedua tutorial tersebut, ENJOY!!! :)

nb: untuk meningkatkan persentase keberhasilan, UNROOT dulu Zenfone 5 kamu jika sebelumnya Zenfone 5 kamu di ROOT dan untuk mengurangi potensi kehilangan data, sebaiknya BACK UP dulu data-data penting kamu ya

Persiapan:
1. Niat
2. Kesabaran
3. PC/laptop dengan OS Windows 7

Bahan-bahan:

nb: pilih FW yang sesuai dengan SKU bawaan Zenfone kamu ya (WW, CHT, TW, dsb.)

Mengaktifkan Debugging USB:
1. Aktifkan debugging mode pada menu DEVELOPER OPTION, kalau belum diaktifkan lakukan langkah berikut. SETTING > ABOUT > SOFTWARE INFORMATION > TAP 7X pada BUILD NUMBER. Setelah itu, akan ada pop-up yang memberi tahu bahwa menu DEVELOPER OPTION sudah aktif.
2. Masuk ke menu DEVELOPER OPTION kemudian aktifkan DEBUGGING USB dengan mencentang ceklis pada kolomnya.

Upgrade:
1. Install semua bahan, khusus ADB-driver no.5 pastikan Zenfone 5 kamu sudah terhubung ke PCl/aptop kemudian install.
2. Hasil download ADB-fasboot yang berupa file kompresan kamu ekstrak dan pindahkan ke FOLDER baru.
3. RENAME file FW menjadi firmware kemudian pindahkan ke folder ADB-fasboot.
4. Klik folder ADB-fasboot, tekan tombol SHIFT sambil klik kanan, kemudian pilih Open command window here
5. Ketik command adb device
6. Jika berhasil, akan ada tulisan List device attach beserta kombinasi huruf & angka device.
7. Jika gagal, kemungkinan terjadi kesalahan dalam meng-install ADB-driver dan Intel USB Driver.
8. Setelah berhasil, ketik command adb reboot recovery
9. Selanjutkan kita akan melihat robot android hijau terbaring dengan tanda seru terburai dari perutnya :D dengan tulisan No Commnad dibawahnya.
10. Tekan volume up & volume down bersamaan kemudian pilih update from adb (jika didiamkan, Zenfone 5 akan restart dengan sendirinya).
11. Ketik command adb sideload firmware.zip
12. Biarkan proses berjalan hingga 100% (proses akan berlangsung agak lama, harap sabar ya).
13. Setelah selesai akan ada keterangan Instalation Succes pada layar.
14. Pilih wipe chace partition, tunggu sampai proses selesai kemudian pilih reboot system now

Setelah selesai, selamat Zenfone 5 kamu sudah ter-upgrade ke FW terakhir :)

Semoga bermanfaat & selamat mencoba :)

Buat kamu pengguna Zenfone 5 bisa bergabung dengan beberapa grup Facebook khusus Zenfone 5 antara lain Asus Zenfone 5 Indonesia | Zen-UI dan Asus Zenfone 5 Indonesia untuk berbagi info, ilmu, pengalaman, dll.

See you there, guys :)

Monday, February 3, 2014

Semar dan Punakawan Lainnya (Bagian 2)

Pada tulisan sebelumnya, telah dibahas tentang Punakawan pendamping Semar versi pewayangan Surakarta dan Jogjakarta. Sebelumnya juga telah ditulis bahwa dalam Pewayangan Cirebon, Semar memiliki delapan pendamping/"anak" yang memiliki keunikannya masing-masing. Berdasarkan Babad Cirebon, Punakawan pendamping Semar dimunculkan pertama kali oleh Sunan Panggung yang dipercaya sebagai Sunan Kalijaga. Jumlah Punakawan dalam pewayangan Cirebon yang berjumlah sembilan disimbolkan sama dengan jumlah Wali Songo. Pada saat itu, Cirebon dikuasai oleh kerajaan Mataram Islam, sehingga salah satu cara penyebaran agama Islam menggunakan wayang sebagai media dakwah. Salah satu buktinya adalah adanya kitab Asmaragama. Dalam pewayangan Cirebon, kitab Asmaragama berisi etika hubungan suami istri dalam membangun dan membina rumah tangga. Di kalangan dalang wayang Cirebon, kitab tersebut dipercaya ditulis oleh Sunan Panggung/Sunan Kalijaga. Ajaran dalam kitab Asmaragama disimbolkan dalam bentuk Punakawan yang berjumlah sembilan. Nama-nama Punakawan dipercaya mengandung isi dari kitab tersebut.

Dalam pewayangan Cirebon, asal-usul Semar dan Punakawan pendampingnya berbeda dengan versi Surakarta atau Jogjakarta. Dalam versi Arjawinangun, diceritakan Sang Hyang Wenang menikah dengan Dewi Arini dan berputra Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Siti Bentar. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki sembilan anak, dua diantaranya adalah Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Tismaya. Ketika diadakan sayembara untuk menggantikan Sang Hyang Tunggal sebagai penguasa kahyangan, keduanya mengikuti sayembara tersebut. Syarat dari sayembara tersebut adalah mencapai Bale Mercupunda tanpa melorot kembali, dialah yang akan menjadi pemimpin kahyangan. Pada akhirnya Sang Hyang Tismaya berhasil dan menjadi pemimpin kahyangan dengan gelar Batara Guru. Sementara itu, Sang Hyang Ismaya berhasil mencapai Bale Mercupunda akan tetapi melorot kembali jatuh ke bumi. Akan tetapi, sebelum melorot ia sempat mengambil jimat Layang Kalimasada dari Bale Mercupunda.

   Di bumi, Sang Hyang Ismaya mencari orang untuk dijadikan majikan. Kemudian ia bertemu dengan Begawan Palasara yang merupakan raja Kerajaan Astina. Begawan Palasara bersedia menjadi majikan dan meminta Sang Hyang Ismaya merubah wujudnya. Sang Hyang Ismaya kemudian melepas bungkus jimat Layang Kalimasada dan menempelkannya ke tubuhnya. Sang Hyang Ismaya berubah menjadi Semar. Nama Semar sendiri berasal dari kata samar. Jimat Layang Kalimasada kemudian ia berikan kepada Begawan Palasara.

Semar menikah dengan Sudiragen yang merupakan titisan istrinya di kahyangan, yaitu Dewi Sanggani. Karena tidak memiliki anak, Begawan Palasara menyuruh Semar untuk mempunyai Punakawan pembantu. Semar kemudian menciptakan Punakawan dan diakuinya sebagai anak. Mereka adalah:
1. Bitarota


Diciptakan dari orang-orangan sawah (versi lain menyebutkan berasal dari tumbuhan tungkul). Bitarota berkarakter pendiam dan memiliki perasaan yang halus. Dalam kitab Asmaragama, Biratora berarti naro bibit kang rata. Bila diartikan kurang lebih harus meletakkan atau memasukkan benih baik.

2. Ceblok 


Diciptakan dari gagang daun kelapa (versi lain menyebutkan berasal dari kayu sempu). Ceblok berkarakter pemberani dan berangasan. Dalam kitab Asmaragama, Ceblok berarti nanceba ing seblok.  seseorang harus setia pada pasangannya.

3. Duwala


 Diciptakan dari bonggol bambu (versi lain menyebutkan berasal dari kayu panggang/bakar). Duwala berkarakter periang dan pintar menembang/menyanyi walaupun suaranya sengau. Dalam kitab Asmaragama, Duwala berarti aja padu bokat ala. Bila diartikan kurang lebih jangan sembarangan dan jangan sampai salah.

4. Gareng


Diciptakan dari potongan kayu gaharu (versi lain menyebutkan berasal dari benalu kayu panggang). Gareng berkarakter sombong dan angkuh. Dalam kitab Asmaragama, Gareng berarti mangga bareng rengreng. Bila diartikan kurang lebih harus direncanakan bersama.

5. Bagong


Diciptakan dari daun kastuba (versi lain menyebutkan berasal dari tunggak jati). Bagong memiliki suara yang serak, kasar, dan selalu berbahasa Sunda. Dalam kitab Asmaragama, Bagong berarti amba kang legong. Bila diartikan kurang lebih bercinta harus dilakukan di tempat yang pantas.

6. Bagal Buntung


Diciptakan dari bonggol jagung (versi lain menyebutkan berasal dari kemandi, yaitu sejenis benalu). Bagal Buntung bicaranya pelo/cadel. Dalam kitab Asmaragama, Bagal Buntung berarti baka bakal buntung. Bila diartikan kurang lebih kalau gagal hasilnya akan jelek/cacat.

7. Cungkring


Diciptakan dari potongan bambu (versi lain menyebutkan berasal dari pohon randu). Sifat dan perilaku Cungkring sama dengan tokoh Petruk pada wayang Jawa Tengah. Cungkring selalu memegang rokok untuk menyundut lawannya. Dalam kitab Asmaragama, Cungkring berarti baka wis mancung ningkring. Bila diartikan kurang lebih kalau sudah birahi segera berhubungan dengan istri.

Nama Semar dalam kitab Asmaragama berarti mesem aja samar. Bila diartikan kurang lebih tidak harus tersenyum tulus terhadap pasangan. Satu Punakawan lagi adalah Curis. Diceritakan bahwa Curis adalah adik Semar yang bernama asli Sang Hyang Sukmasara yang juga mengikuti sayembara memperebutkan tahta kahyangan. Ia berhasil mencapai Bale Mercupunda akan tetapi melorot jatuh ke bumi dan lehernya tersangkut pohon. Sang Hyang Sukmasara kemudian ditemukan dan ditolong oleh Sambarama yang merupakan kakak Begawan Palasara, kemudian diserahkan kepada Semar. Sama seperti Semar, ternyata saat mencapai Bale Mercupunda, Sang Hyang Sukmasara sempat mengambil jimat Cupu Garuda Mahmud. Atas saran Semar, Sang Hyang Sukmasara diminta merubah wujudnya. Sang Hyang Sukmasara kemudian melepas bungkus jimat kemudian menggunakannya ke badannya sehingga wujudnya berubah.


Dalam kitab Asmaragama, Curis berarti mancur kang aris. Bila diartikan kurang lebih sprema dikeluarkan dan ditempatkan secara baik.


(bersambung)

Friday, January 31, 2014

Semar dan Punakawan Lainnya (Bagian 1)

Pada tulisan sebelumnya yang berjudul Semar, Sang Punakawan, telah diceritakan tentang Semar dengan keunikan serta keistimewaannya. Selain itu, jika diperhatikan, ternyata di semua cerita wayang versi Jawa selalu ada tokoh Semar. Hal yang membedakan adalah tokoh Punakawan pendamping Semar yang juga memiliki keunikannya masing-masing. Dalam pewayangan versi Surakarta dan Jogjakarta, Semar ditemani "anak-anaknya" yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Dalam wayang golek Sunda, Semar ditemani Cepot, Dawala, dan Gareng. Pada wayang versi Cirebon, Semar memiliki delapan "anak" yaitu, Bitarota, Ceblok, Duwala, Cungkring, Bagong, Bagalbuntung, dan Gareng serta Curis. Sedangkan dalam cerita pewayangan Bali, tokoh Punakawannya adalah Tualen, Merdah, Delem, dan Sangut.

Punakawan versi Surakarta dan Jogjakarta


1. Gareng
Gareng atau Nala Gareng nama lengkapnya merupakan anak tertua Semar. Sebelumnya dia adalah seorang kesatria tampan lagi sakti bernama Bambang Sukodadi yang berasal dari Padepokan Bluktiba. Suatu ketika setelah bertapa dari Bukit Candala, Bambang Sukodadi berniat berkelana untuk menaklukan para raja di dunia wayang. Di perjalanan, Bambang Sukodadi bertemu dengan Bambang Panyukilan yang kemudian diajaknya berduel. Pertarungan berlangsung sengit dan seimbang karena keduanya sama-sama sakti. Mereka terus bertarung sampai fisik mereka cacat tak karuan berbeda dari wujud asli mereka. Akhirnya pertarungan mereka dihentikan oleh Semar yang memberikan nasihat kepada mereka berdua. Mereka berdua akhirnya diangkat menjadi anak oleh Semar. Bambang Sukodadi berubah nama menjadi Nala Gareng sebagai anak pertama dan Bambang Panyukilan berubah nama menjadi Petruk sebagai anak kedua.

wayang Gareng versi Surakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)

Gareng memiliki nama lain, yaitu Nala Gareng (artinya hati yang kering, kering dari kemakmuran, sehingga ia senantiasa berbuat baik), Pancalpamor (artinya menolak godaan duniawi), dan Pegatwaja (artinya gigi sebagai perlambang bahwa Gareng tidak suka makan makanan yang enak-enak yang memboroskan dan mengundang penyakit). 

wayang Gareng versi Jogjakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)

Gareng memiliki penampakan fisik mata juling, tangan bengkok, dan kaki cacat (jinjit sebelah). Di balik kecacatan fisik Gareng ternyata menyimpan filosofi yaitu:
- Mata juling bermakna tidak mau melihat hal-hal yang bisa menimbulkan kejahatan
- Tangan bengkok bermakna tidak mau mengambil hak orang lain
- Kaki cacat bermakna selalu hati-hati dalam melangkah/bertindak
Walaupun Gareng memiliki banyak cacat fisik, tetapi dia memiliki sifat humoris, setia, dan suka menolong. Pada sebuah lakon, Gareng pernah menjadi raja di kerajaan Parang Gumiwang dan bergelar Prabu Pandu Bergola. Dia menjadi raja yang sakti tanpa tanding dan hendak menaklukan para raja dunia wayang. Pada akhirnya atas petunjuk Semar, Prabu Pandu Bergola dapat dikalahkan oleh Petruk dan Prabu Pandu Bergola kembali menjadi Gareng.

wayang Gareng raja Pandu Bergola versi Surakarta

2. Petruk
Petruk merupakan anak kedua Semar. Sebelumnya dia adalah seorang kesatria anak pendeta bangsa raksasa Begawan Salantara. Nama aslinya adalah Bambang Panyukilan. Di daerah sekitarnya, Bambang Panyukilan termasuk orang yang sakti. Pada suatu ketika, dia ingin menjajal kesaktiannya dengan berkelana. Di perjalanan dia bertemu dengan Bambang Sukodadi yang kemudian mengajaknya berduel. Karena kesaktian mereka seimbang, mereka terus bertarung hingga wujud fisiknya menjadi cacat. Pada akhirnya, pertarungan tersebut dilerai oleh Semar dan menasihati mereka berdua. Mereka berdua akhirnya diangkat menjadi anak oleh Semar. Bambang Sukodadi berubah nama menjadi Nala Gareng sebagai anak pertama dan Bambang Panyukilan berubah nama menjadi Petruk sebagai anak kedua.

wayang Petruk versi Surakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)

Petruk memiliki nama lain Dawala (bahasa Jawa dawa artinya panjang, la artinya ala atau jelek) dan Petruk Kantong Bolong. Dari nama Dawala telah menggambarkan ciri fisik Petruk yaitu sudah panjang (hidung, tangan, dan kaki), jelek pula wujudnya. Akan tetapi hal ini bisa diartikan bahwa walaupun jelek, Petruk selalu berpikir panjang yang dalam artian tidak gegabah dalam bertindak. Walaupun fisiknya jelek, Petruk digambarkan memiliki wajah yang selalu tersenyum. Sedangkan Kantong Bolong menggambarkan bahwa Petruk adalah orang yang sabar, lapang dada, dan tidak sakit hati seperti halnya benda yang dimasukkan ke kantung yang bolong akan segera hilang karena terjatuh. Ada juga yang mengartikan Petruk sudah tidak memerlukan/memikirkan harta duniawi karena kantongnya bolong sehingga tidak bisa menyimpan harta benda lagi (hidup sederhanya/secukupnya).

wayang Petruk versi Jogjakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)

Petruk adalah Punakawan yang pandai bicara dan pandai melucu. Selain itu, diantara Gareng dan Bagong, Petruk lebih pintar dan pandai menembang/menyanyi. Sebagai Punakawan, Petruk menerapkan 5M, yaitu momong (bisa mengasuh), momot (dapat memuat segala keluhan tuannya, dapat merahasiakan masalah), momor (tidak sakit hati ketika dikritik dan tidak mudah bangga kalau disanjung), mursid (pintar sebagai abdi, mengetahui kehendak tuannya), dan murakabi (bermanfaat bagi sesama). Dalam suatu lakon, Petruk pernah menjadi raja di Kerajaan Lojitengara dan bergelar Prabu Welgeduwelbeh. Hal ini terjadi setelah dia meletakkan pusaka Jamus Kalimasada di kepalanya sebagai upaya mengamankannya saat kerajaan Amarta dan kerajaan Imantaka memperebutkannya. Prabu Welgeduwelbeh amat sakti dan dapat menaklukan seluruh kerajaan di dunia wayang. Pada akhirnya Prabu Welgeduwelbeh dapat dikalahkan oleh Gareng dan Bagong dan kembali menjadi Petruk.

wayang Petruk raja Welgeduwelbeh versi Jogjakarta

3. Bagong
Bagong merupakan anak ketiga Semar. Asal usul Bagong adalah dia berasal dari bayangan Semar. Saat pertama kali Togog dan Semar diturunkan ke dunia, mereka meminta kepada Sang Hyang Tunggal untuk diberi teman. Sang Hyang Tunggal mengajukan pertanyaan berbunyi, "Siapa kawan sejati manusia?". Togog menjawab “hasrat”, sedangkan Semar menjawab “bayangan”. Dari jawaban tersebut, Sanghyang Tunggal pun mencipta hasrat Togog menjadi manusia kerdil bernama Bilung, sedangkan bayangan Semar dicipta menjadi manusia bertubuh bulat, seorang lelaki yang postur tubuhnya mirip Semar, ia diberi nama Bagong. Walaupun telah lebih dulu bersama Semar, Bagong justru sering dijadikan anak bungsu karena sifatnya yang polos dan kekanak-kanakan.

 wayang Bagong versi Surakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)

Bagong memiliki ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan, yaitu bertubuh pendek, gemuk, dengan mata bundar besar, bibirnya lebar, dan berhidung kecil. Bagong juga dikenal karena gaya bicaranya yang semaunya sendiri, bicara ceplas ceplos apa adanya dan kurang memiliki tata krama dalam berbicara. Digambarkan bahwa penampilan Bagong seperti orang dungu. Akan tetapi ia merupakan sosok yang lucu, tangguh, tabah, selalu beruntung, dan disayang tuan-tuannya.
wayang Bagong versi Jogjakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)


Yang menarik adalah, pada zaman penjajahan Belanda, para dalang sering memanfaatkan karakter Bagong yang suka bicara ceplas ceplos dan semaunya sendiri untuk mengkritik pemerintah Belanda. Oleh karena itu, pemerintah Belanda melarang bahkan menghilangkan tokoh Bagong saat pementasan wayang.


(bersambung)

Monday, January 13, 2014

Sepuluh Filosofi Semar

Dalam kisah pewayangan Jawa, pesan berupa nilai-nilai filosofi sering ditampilkan lewat penuturan bijak Semar kepada orang-orang yang dimomongnya. Nilai-nilai filosofi tersebut bersifat universal dan akan tetap relevan sampai kapan pun sehingga kita juga dapat memahaminya. Secara ringkas, nilai-nilai tersebut dirangkum menjadi sepuluh filisofi Semar.

wayang Semar versi Surakarta
  1. urip iku urup Hidup itu hendaknya memberi manfaat kepada orang disekitar kita
  2. memayu hayuning bawana, ambrasta dur hangkara Harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan, serta memberantas sifat angkara murka, serakah, dan tamak
  3. sura dira jaya jayaningrat, lebur dening pangastuti Segala sifat keras hati, picik, dan angkara murka hanya dapat dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati, dan sabar
  4. nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sakti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha Berjuang tanpa perlu membawa massa, menang tanpa merendahkan, berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan/kekayaan/kekuatan/keturunan, kaya tanpa didasari hal-hal yang bersifat materi
  5. datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan Jangan mudah sakit hati saat musibah/hasutan menimpa, jangan sedih saat kehilangan
  6. aja gumunan, aja getunan, aja kagetan, aja aleman Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, jangan manja
  7. aja ketungkul marang, kalungguhan, kadonyan lan kemareman Jangan terobsesi dengan kedudukan, materi, dan kepuasan duniawi
  8. aja kuminter mundak keblinger, aja cidra mundak celaka Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan berbuat curang agar tidak celaka
  9. aja milik barang kang melok, aja mangro mundak kendho Jangan mudah tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, dan indah, jangan berpikir gamang agar tidak kendur niat dan semangat
  10. aja adigang, adigung, adiguna Jangan sok kuasa, sok kaya, dan sok sakti

sumber: Hermawan, Deny. 2013. Semar dan Kentut Kesayangannya. Jogjakarta: Diva Press

Sunday, January 12, 2014

Semar, Sang Punakawan

Semar merupakan tokoh pewayangan asli Indonesia karena dalam kisah asli Ramayana dan Mahabharata tidak ada tokoh Semar. Semar dikenal sebagai salah satu punakawan yang berperan sebagai penasihat, pengasuh, teman, dan penghibur. Semar memiliki petuah-petuah bijak dan dapat mengayomi orang-orang disekitarnya. Dalam kisah pewayangan, Semar merupakan pengasuh para kesatria (kebaikan), sedangkan Togog yang merupakan kakak Semar, adalah pengasuh kaum raksasa (kejahatan). Dikisahkan bahwa Semar memiliki banyak keistimewaan. Berikut ini akan dibahas beberapa keistimewaan Semar.

1. Keunikan Fisik Semar
Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, yang bisa dibilang sebagai simbolisasi dualisme di dunia. Tubuh Semar bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal manusia dan makhluk lainnya. Semar digambarkan selalu tersenyum tetapi matanya selalu sembab dan mengeluarkan air mata. Penggambaran ini adalah simbol suka dan duka yang selalu menyertai manusia. Wajah Semar terlihat tua tetapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil. Ini sebagai simbol tua dan muda. Semar berkelamin laki-laki tetapi memiliki payudara seperti perempuan. Ini merupakan simbol maskulin dan feminim. Semar digambarkan sebagai penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata. Ia juga digambarkan berdiri sekaligus jongkok. Dapat disimpulkan bahwa Semar adalah simbol manunggalnya "atasan" dan "bawahan".

 wayang Semar versi Jogjakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)


2. Semar Sebagai Dewa
Terdapat beberapa versi tentang asal-usul Semar, namun semuanya menyebut bahwa Semar merupakan penjelmaan dewa. Dalam naskah Serat Kanda, dikisahkan bahwa ada seorang penguasa kahyangan bernama Sang Hyang Nurrasa. Ia memiliki dua orang putra, yaitu Sang Hyang Tunggal dan Sang Hyang Wenang. Karena Sang Hyang Tunggal berwajah jelek, tahta kahyangan diberikan kepada Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Wenang kemudian mewariskan tahtanya kepada anaknya, yaitu Batara Guru. Sang Hyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh keturunan Batara Guru dengan nama Semar.
Dalam naskah Paramayoga, dikisahkan Sang Hyang Tunggal adalah anak Sang Hyang Wenang. Sang Hyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti yang merupakan putri dari raja jin kepiting bernama Sang Hyang Yuyut. Dari perkawinan itu, lahir sebuah mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, yang satunya diberi nama Manikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga Sang Hyang Tunggal kerang berkenan. Tahta kahyangan kemudian diwariskan kepada Manikmaya yang kemudian bergelar Batara Guru, sedangkan Ismaya menjadi penguasa alam sunyaruri atau alam tempat tinggal makhluk halus. Ismaya menikah dengan Dewi Senggani kemudian lahirlah Batara Wungkuhan, Batara Surya, Batara Candra, Batara Tamburu, Batara Siwa, Batara Kuwera, Batara Yamadipati, Batara Kamajaya, Batara Mahyanti, dan Batari Darmanastiti. Si sulung Batara Wungkuham memiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta yang kemudian dikenal sebagai Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama Resi Manumanasa dan terus berlanjut sampai anak cucunya. Dalam keadaan istimewa, Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar menjadi sosok yang sangat ditakuti oleh para dewa sekalipun.
Dalam naskah Purwakanda, dikisahkan Sang Hyang Tunggal memiliki empat orang anak, yaitu Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari tersiar kabar bahwa tahta kahyangan akan diwariskan kepada Batara Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Batara Samba diculik, disiksa, dan hendak dibunuh. Akan tetapi, perbuatan tersebut diketahui oleh Sang Hyang Tunggal. Sang Hyang Tunggal kemudian mengutuk ketiga putranya menjadi buruk rupa. Batara Puguh berganti nama menjadi Togog dan Batara Punggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia menjadi pengasuh keturunan Batara Samba yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu, Batara Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Batara Manan kemudian berganti nama menjadi Batara Narada dan menjadi penasihat Batara Guru.
Dalam naskah Purwacarita, dikisahkan Sang Hyang Tunggal menikah denga Dewi Rekatawati, putri Sang Hyang Rekatatama. Dari perkawinan itu, lahir sebutir telur yang bercahaya. Sang Hyang Tunggal merasa kesal kemudian membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang telur, putih telur, dan kuning telur. Masing-masing berubah menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang telur diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, dan yang berasal dari kuning telur diberi nama Manikmaya. Pada suatu hari, Antaga dan Ismaya berselisih karena ingin menjadi pewaris tahta kahyangan. Keduanya mengadakan perlombaan menelan gunung dan memuntahkannya kembali. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan tetapi malah mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya mencoba dengan memakan gunung sedikit demi sedikit selama beberapa hari. Gunung tersebut berhasil ia telan tetapi tidak bisa ia muntahkan sehingga tubuhnya menjadi bulat. Mengetahui hal ini, Sang Hyang Tunggal marah dan menghukum mereka berdua menjadi pengasuh keturunan Manikmaya yang justru menjadi raja kahyangan dan bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya kemudian diturunkan ke bumi dan berganti nama menjadi Togog dan Semar.

wayang Batara Ismaya versi Jogjakarta


3. Mbegegeg Ugeg-Ugeg
Setiap mengawali dialog dalam wayang kulit, Semar akan mengucapkan kata-kata yang menjadi ciri khasnya. Kata-kata tersebut berbunyi mbegegeg ugeg-ugeg, hemel-hemel, sak ndulit, langgeng. Arti dari kata-kata tersebut adalah diam, bergerak atau berusaha, makan, walaupun sedikit, dan langgeng atau abadi. Ucapan tersebut terdengar lucu bahkan mungkin aneh, tetapi ucapan tersebut memiliki makna yang mendalam. Kata-kata tersebut kurang lebih menyiratkan pesan berikut: daripada diam (mbegegeg), lebih baik berusaha (ugeg-ugeg), untuk mencari makan (hemel-hemel), walaupun sedikit (sak ndulit), tapi akan terasa abadi (langgeng). Ini merupakan pesan moral supaya manusia selalu bekerja keras mencari nafkah, walaupun hasilnya sedikit namun kepuasannya akan terasa abadi.


wayang Semar versi Cirebon
4. Mustika Manik Astagina
Selain dikenal karena kebijaksanaanya, Semar juga dikenal karena kesaktiannya. Hal ini karena Semar memiliki mustika Manik Astagina. Mustika Manik Astagina adalah pusaka pemberian Sang Hyang Wasesa yang disimpan di kuncung Semar. Pusaka tersebut memiliki kekuatan sehingga Semar terhindar dari rasa lapar, kantuk, asmara, sedih, lelah, sakit, panas, dan dingin. 

wayang Semar versi Surakarta
(via tokohwayangpurwa.blogspot.com)

5. Kentut Semar
Dalam kisah pewayangan, Semar dikenal memiliki kekuatan unutk mengalahkan lawan-lawannya. Semar menggunakan kentut sebagai senjata andalannya. Walalupun bau, kentut tersebut jika tercium oleh lawannya akan membuat mereka kembali ke jalan yang benar. Kentutnya hanya dikeluarkan saat keadaan mendesak. Kentutnya bukan untuk membunuh, tetapi menyadarkan lawannya. Secara simbolis, kentut Semar dapat diartikan sebagai suara rakyat kecil untuk menyadarkan pemimpin mereka yang zalim kepada rakyatnya. 

wayang golek Semar

sumber: Hermawan, Deny. 2013. Semar dan Kentut Kesayangannya. Jogjakarta: Diva Press